Response Strategic Menghadapi 3 Blueprint Asean Community

Oleh: M. Arafat Imam G (*)

(Tulisan ini masuk dalam Majalah Bekasi Kotaku Edisi 2 Tahun 2016 pada Segmen Rubik Opini Hal 48-50)

Faktanya, ASEAN Bukan Asosiasi Regional Kecil. ASEAN terdiri lebih dari ±620 juta orang dan merupakan salah satu kumpulan masyarakat dalam satu wilayah terbesar di dunia.

Jika di Eropa sudah terbentuk Uni Eropa/Europe Union (EU), maka kini giliran 10 negara ASEAN yang membentuk ASEAN Community (AC) yang resmi dilaksanakan sejak 31 Desember 2015 dengan menjalankan 3 blueprint (cetak biru)-nya.
AC bukanlah sebuah event, tetapi sebuah proses panjang sejak 2007. AC didefinisikan sebagai ‘Masyarakat ASEAN’ (bukan ‘Komunitas ASEAN’) dengan slogan “One vision, one identity, one community” dan memiliki lagu kebangsaan (ASEAN Anthem) berjudul The ASEAN Way. Ciri-ciri seperti ini yang juga dimiliki oleh EU sejak pertama EU digagas.
Pada artikel kali ini, penulis akan memberi gambaran umum tentang 3 blueprint AC dan response strategic pemerintah terhadap AC secara singkat padat. Namun dikarenakan materi yang luas sedangkan penulis memiliki keterbatasan ruang tulis, artikel ini bukanlah sebuah kajian analisis holistik.

Gambaran 3 Blueprint ASEAN Community

Tujuan AC yang tertuang pada blueprint AC adalah “Sebagai satu masyarakat berorientasi manusia guna mempersempit kesenjangan pembangunan dengan menjadikan wilayah ASEAN sebagai satu kesatuan politik dan keamanan, ekonomi, dan sosial budaya” (2013). Berdasarkan tujuan tersebut, AC memiliki total 657 program aksi yang dibagi kedalam 3 blueprint.
FYI, cara membaca blueprint AC sama seperti cara membaca GBHN/SPPN (Garis-garis Besar Haluan Negara/Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional). Struktur dan sekuensnya jelas, yaitu berupa kebijakan, strategi, program dan kegiatan. Ketiga blueprint tersebut yaitu:

1. Masyarakat Politik dan Keamanan ASEAN (Polkam), terdiri dari 142 Program Aksi

Tujuannya adalah “Meningkatkan keamanan, stabilitas, demokrasi, dan kesejahteraan dalam wilayah ASEAN melalui kerjasama komprehensif politik dan keamanan”.

2. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), terdiri dari 176 Program Aksi

Tujuannya adalah “Meningkatkan daya saing dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan melalui integrasi ekonomi yang lebih erat.”. Blueprint ini menghasilkan kebijakan sbb:
a) Aliran bebas barang
Contoh: Penghapusan tariff dll. Sehingga petani kita patut waspada terhadap ‘Bangkok Syndrome’ pada komoditas pangan.
b) Aliran bebas sektor jasa
c) Aliran bebas investasi
Hal ini BUMN/D kita patut waspada karena asing boleh memiliki saham s/d 70%.
d) Aliran modal yang lebih bebas
e) Aliran bebas lalu lintas tenaga kerja terampil
Bebas visa dan izin bekerja bagi para profesional dan tenaga kerja terlatih ASEAN. Hal ini SDM kita yang tidak terlatih patut waspada dan harus mampu bersaing. Sebagai contoh, pedagang buah di Thailand dapat mengupas nanas hanya dengan waktu 50 detik, maka SDM kita minimal juga harus dapat bersaing pada angka tersebut.
f) Sektor integrasi prioritas
g) Pangan, Pertanian, dan kehutanan

3. Masyarakat Sosial Budaya ASEAN (Sosbud), terdiri dari 339 Program Aksi

Tujuannya adalah “Merawat dan memelihara sumber daya manusia, budaya, dan sumber daya alam guna pembangunan berkelanjutan dalam satu ASEAN yang harmonis yang berporos manusia.”

Persiapan Tiap Negara ASEAN

FYI, negara dengan persiapan paling dini dan matang adalah Thailand, bukan hanya mempersiapkan MEA, Thailand juga mempersiapkan pilar polkam dan sosbudnya sebagaimana pernyataan satu dari tiga tujuan kebijakan Pemerintah Kerajaan Thailand, 23 Augustus 2011: “menyiapkan Thailand akan kedatangan ASEAN Community in 2015, dengan memperkuat negara dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, politik, dan keamanan”. Lalu melahirkan kebijakan mendesak yang harus dilaksanakan: “mendesak semua pihak untuk wajib mengintegrasikan diri dalam ASEAN Community 2015 dalam aspek ekonomi, sosial, dan keamanan,dan juga keterhubungannya dengan transportasi intra-regional dan inter-regional”.
Foto: Contoh pemasangan 11 bendera pada lobby STIA-LAN Jakarta
Raja Thailand juga menghimbau pada setiap tempat instansi dan perusahaan swasta agar memasang 11 bendera AC pada setiap lobby-nya, hal ini berguna untuk mengingatkan kesiapan masyarakat negaranya pada tantangan persaingan AC.
Banyak dari masyarakat Thailand juga sudah memulai mempelajari bahasa dan kultur budaya Indonesia.
Bahkan Komite Nasional ASEAN di Thailand sudah terbentuk sejak tahun 2010. Semua Menteri dan perwakilan sektor swasta sebagai anggota.
Contoh negara lain, pada seluruh Universitas Negeri di Indonesia yang memiliki fakultas Kedokteran, terdapat mahasiswa dari Malaysia, selain dirasa lebih efisien jika harus mendirikan sendiri fakultas tersebut pada universitas di negerinya, mereka juga akan akrab dengan kondisi sosbud masyarakat di daerah universitas berada, sehingga jika kelak mereka membuka praktek pada daerah tersebut, mereka akan dengan mudah membaur dengan masyarakatnya.

Response Strategic Indonesia

Sampai dengan Juni 2016, tercatat terdapat response strategic sbb:
  1. Inpres No. 5/2008 tentang Fokus Program Ekonomi, dimana salah satu kebijakannya adalah Pelaksanaan Komitmen MEA;
  2. Inpres No. 11/2011 tentang Pelaksanaan Komitmen Cetak Biru MEA (dengan dukungan Menteri Perdagangan);
  3. Keppres No. 23/2012 tentang Susunan Keanggotaan Sekretariat Nasional ASEAN;
  4. Program pembangunan seperti MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia);
  5. Program Sistem Logistik Nasional (Sislognas);
  6. Penyusunan Inpres dan roadmap daya saing;
  7. Policy Paper kesiapan Indonesia menghadapi MEA;
  8. Monitoring langkah Pemerintah melalui UKP4 (Unit Kerja bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan);
  9. Keppres No. 37/2014 tentang Komite Nasional Persiapan Pelaksanaan MEA;
  10. Inpres No. 6/2014 tentang Peningkatan Daya Saing Nasional dalam Rangka Menghadapi MEA.
Jika diamati, Indonesia hanya mempersiapkan MEA, belum pada pilar polkam dan sosbud. Maka tidak heran jika masyarakat kita mengenal AC hanya sebagai MEA, meskipun ekonomi menyangkut hajat hidup masyarakat secara langsung, tapi AC lebih dari sekedar pilar ekonomi.
Jika dalam menghadapi masalah kondisi masyarakat kita umumnya reaksioner, jika ada masalah baru ramai diperbicarakan, maka setidaknya hal ini dapat menjadi catatan penting bagi kita, khususnya penulis dan pembaca, bahwa jangan sampai kita menunggu masyarakat ASEAN lain berbondong-bondong melebarkan industri dan pasar di Indonesia hingga lahan pekerjaan kita terambil tanpa tahu kita harus berbuat apa.

Kesimpulan dan Saran

Dibawah ini berisi hal yang sekiranya perlu dilakukan oleh tiap sektor dalam rangka response strategic menghadapi AC. Namun karena keterbatasan ruang tulis, penulis hanya memberi gambaran umumnya.

Pemerintah Pusat dan Daerah

  1. Kerangka kebijakan nasional yang mendorong daya saing global
  2. Kebijakan daerah yang harmonis-inovatif-pro iklim usaha

Dunia Usaha Nasional

  1. Penguatan strategi penguasan domestik & ekspansi wilayah bisnis di ASEAN
  2. UMKM tingkatkan kapasitas & kualitas produk-jasa serta manfaatkan Teknologi Informasi, modal, SDM dan bahan baku

Kalangan Pekerja

  1. Ubah budaya kerja, pertajam kompetensi, spesialisasi keahlian & dorong produktivitas
  2. ASEAN sebagai pasar kerja potensial & basis pengembangan karir

Dunia Akademik

  1. Sistem menghasilkan manusia Indonesia optimis, kreatif, dinamis dan mampu berdaya saing
  2. Kembangkan tenaga vokasi handal, berkemampuan internasional

Masyarakat Umum

  1. Proaktif meningkatkan pemahaman tentang MEA dalam melihat peluang yang ada
  2. Aktif menggunakan produk dan jasa asli Indonesia
  3. Tahu AC secara komprehensif, yaitu tahu harus berbuat apa, kapan (Tahu kapan mulai, kapan harus bersikap, berfikir, bertindak, kapan ikut, dan kapan mengakhirinya) dan bagaimana melakukannya
  4. Menyikapinya dengan proporsional, tidak berlebihan/lebay tapi juga tidak santai

Dedikasi pada kolaborasi dan inovasi langsung dari tiap sektor mendukung komitmen Pemerintah untuk mensukseskan era baru, yaitu era Indonesia dalam Masyarakat ASEAN. Berbagai cara mudah hingga cara yang lebih kompleks dalam kebijakan mendayagunakan SDA dan SDM dapat kita lakukan untuk membuat Indonesia lebih maju pada pentas ASEAN Community, “One vision, one identity, one community”.

***

(*) Penulis adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Bidang Akuntansi BPKAD Kota Bekasi, penulis beberapa buku dan novel. “Menulis untuk menyebarkan kebaikan, menabur optimisme sebagai bagian dari pendidikan bagi anak bangsa”.

Post Focus